Saturday, October 10, 2009
Perasaan
dipakai pemainnya. Aku hanya tertarik pada isu sentral yang mengangkat tema cinta dan pengorbanan. hmmm.terdengar klasik, tapi harus kuakui, aku selalu tertarik dengan film2 bergenre seperti ini. Tak ada adegan sex, kemarahan, bahkan kekerasan sedikit pun. Semua diungkapkan melalui kata2 yang halus serta metafor yang tepat dan cuplikan adegan yang cerdas. Tapi entah kenapa, menontonnya, membuatku seperti berkaca, dan tanpa sadar mengamini. Itulah cinta. Tak perlu ada satu pihak yang merusak kehidupan pihak lain, jika cinta itu sungguh ada.
Aku pernah mengambil keputusan tersulit, ketika akhirnya meninggalkan seseorang (yang tentu saja sangat kucintai), beberapa tahun lalu, hanya agar aku bisa melihatnya kembali bermimpi, dan meraih apa yang tersendat dalam hidupnya ketika kami masih bersama.
Tentu saja keinginan untuk kembali bersamanya terkadang menyeruak...
Tapi aku tahu, kebersamaan kami tidak akan membuat masa depannya menjadi lebih baik. Aku adalah sosok yang sulit, dengan tuntutan dan sifat kekanak-kanakan yang terkadang berlebihan. Dan ia tak akan tahan menghadapi kekeras-kepalaanku. Sama seperti aku tak tahan menghadapi keangkuhannya. Tapi ada cinta yang berputar di sekeliling kami. Dan kami tak pernah meragukannya.
Akhirnya, setelah film itu usai, aku pergi ke kamar. Memutar musik dan mulai menulis.
Tentang perasaan cinta. Sesuatu yang sepertinya sudah lama sekali hilang dari hari-hariku, dan tak tau kapan akan kutemukan lagi...
Thursday, June 18, 2009
Thursday Night
Karena aku tak bisa memberikan jawaban tepat, ia akhirnya mengambil kesimpulan sendiri.
Ia terbiasa hidup sendiri ketika melajang. Sepertiku. Memeras otak dan tenaga, bekerja di Jakarta yang hiruk pikuk tanpa seorang pun mendampingi. Lalu ketika menikah, Ia baru menyadari betapa mengejutkan ternyata ketika berbagi kamar dan berbagi kebiasaan dengan seorang pria.
Ia gemas melihat suaminya pulang kantor larut malam, tanpa berganti baju langsung meraih remote tv dan memelototi sepakbola. Ia tak suka melihat suaminya menyimpan piring kotor di dalam kamar. Atau menaruh gelas sembarangan, merokok, sibuk mengutak-atik mobil di hari minggu, ketika seharusnya mereka punya waktu lebih banyak untuk berdekatan. Singkatnya, Ia jadi senewen dengan pola hidup suaminya yang bertolak belakang dengan kehidupan yang dijalaninya ketika Ia seorang diri.
Saat ia menjelaskan jawaban itu, aku bergidik takut.
Selama hampir dua tahun ini aku memiliki kebebasan untuk melakukan apapun, dan memang terkadang terasa begitu nyaman. Aku bisa bermalasan2an di kamar sambil menghabiskan sekotak besar es krim. Aku bisa pergi menikmati musik jazz di akhir pekan, pulang ketika hari telah larut, kemudian bangun ketika jam menunjukkan pukul 10 keesokan harinya. Aku bisa tiba-tiba mematikan handphone dan membaca satu novel tebal sampai tamat di malam hari. Menulis berlembar2 catatan harian ketika tak ada seseorang untuk diajak berbagi, menyanyi keras-keras 3 jam non-stop bersama teman2 yang juga gemar berkaraoke.
Sejauh ini aku nyaman dengan kehidupanku. Kehidupan yang sendiri. Kehidupan yang sarat dengan berbagai kebiasaan yang tak perlu dibagi.
Aku tiba-tiba takut...
Takut jika tiba waktunya nanti aku harus berbagi tempat tidur dengan seseorang...
Mungkin dia tak akan suka caraku makan es krim di tempat tidur sambil membaca novel.
Dan mungkin aku juga tak akan suka dengan kebiasaannya bermain laptop di atas kasur hingga tengah malam.
Lalu aku akan menjadi lebih cerewet.
Lalu dia akan semakin tenggelam dengan pekerjaannya.
Lalu....
Ahh...terlalu banyak ketakutan malam ini...
Friday, April 17, 2009
Mi Manchi
Ternyata Mi Manchi berarti Aku merindukanmu...
Sama seperti malam ini. Ketika tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membuat akhir pekanku lebih berwarna, aku hanya duduk mematung di kamar. Di ujung ruangan, sebuah keyboard yamaha yang beberapa hari ini tak pernah kusentuh, mampu mengalihkan perhatianku. Aku mulai memainkan Mi Manchi dengan terbata-bata. Tangan yang tak begitu lincah, contekan notasi balok dan kunci yang kupasang di atas meja, tuts yang sumbang, dan pikiran yang melayang.
Kapankah terakhir kali aku begitu merindukan seseorang? atau bahkan sesuatu? Seperti apakah rasanya? Aku tak ingat lagi.
Barangkali jawaban itu ada pada Bocelli...
Thursday, July 10, 2008
Leningrad
Seorang teman dekat bercerita padaku dengan mata sembab, bahwa lelaki yang diincarnya selama ini ternyata telah menikah. Padahal ia terlanjur jatuh cinta setengah mati. Dan rasanya mustahil untuk pindah ke lain hati. Jadi, yang bisa dilakukannya hanya menyesali diri, menyesali pertemuan yang terlambat ini. Lalu mengunci diri di dalam kamar sembari mendengarkan musik melankolis yang semakin menyayat hati. Duh..cinta.
“Kalo loe jadi gue, apa yang loe lakuin?”
Pertanyaan itu akhirnya ditujukan juga padaku. Sebelum menjawab, aku diam sejenak. Takut kalau jawabanku justru akan semakin membuatnya tersedu-sedu. Akupun memasang tampang bodoh dan polos, dan berkata, “Ya..paling aku cuma bilang, “Shit! He’s married!” trus merencanakan travelling seorang diri. Menjepret setiap gerakan di jalan-jalan yang kulewati dengan kamera pinjaman. Sembari merasakan nikmatnya menjadi lajang dalam arti yang sebenarnya.”
“Travelling kemana?” ia mengejarku lagi.
Aku diam sesaat. Lalu berkata, “Leningrad!”
Ya, aku ingin sekali melihat Leningrad yang indah. Atau bepergian naik kereta melintasi rel terpanjang di Siberia yang dingin dan sunyi. Lalu pulang ke kampung halaman ketika tahun mulai menua, disertai lagu ‘It was a very good year-nya Frank Sinatra.
Lalu ia tertawa terbahak-bahak. Tawa pertama yang kulihat semenjak seminggu terakhir ini. Tawa yang bercampur kata-kata ejekan, yang mengatakan bahwa aku mempunyai imajinasi yang terlalu aktif dan ngawur. Dan terkadang tak masuk akal.
Aku ingin sekali menjelaskan padanya bahwa hal itu mungkin saja kulakukan. Toh, aku pernah ’melarikan diri’ dari derita hati, dengan menyepi selama lebih dari 3 bulan di negeri kangguru. Meski akhirnya toh, aku kembali jua ke sarang. Sebuah tempat yang sejak dulu selalu membuatku merasa ramai sekaligus sunyi.
Jadi, akhirnya kukatakan padanya, masih dengan wajah polos yang sama.
”Karena Leningrad tak sedekat Australia, rasanya aku belum ingin patah hati dalam waktu dekat ini.”
”Mengapa?”
”Tiket pesawat tak murah. Nanti sajalah kalau tabunganku sudah cukup.”
Ia kembali tertawa. Terasa lebih hangat dari sebelumnya. Dan aku melemparnya dengan boneka gajah oleh-oleh dari Thailand, yang dihadiahkan seseorang padaku beberapa waktu lalu.
”Hidup bukan sekedar urusan memiliki atau tidak memiliki..” bisikku bijak. Kali ini, aku tak memasang tampang bodoh. Aku bersungguh-sungguh. Dan ia menatapku lama sekali sebelum mengangguk dan membiarkan tangisnya pecah sekali lagi.
Nasehat itu, barangkali lebih pantas kutujukan untuk diriku sendiri.
Aku tersenyum dalam hati. Kemudian larut menikmati setiap slide lukisan Vincent Van Gogh yang menghiasi layar laptopku. Diiringi suara merdu Don Mc Lean yang seksi. Dan sedikit menyayat hati…
”Starry..starry night...paint your pallete blue and grey...”
Friday, July 4, 2008
Love in the Time of Cholera
Sejak tiga hari lalu, handphone-ku tak berhenti berdering. Nyaris semuanya menanyakan hal yang sama. ”Apa yang terjadi di Nabire dan Painiai? Seberapa parah kolera telah mewabah di sana? Benarkah korban tewas sudah 79 orang?”
Bagian dari pekerjaanku, tentu saja. Menjawab kegelisahan mereka. Meski aku sendiri masih menangkap samar-samar tentang apa yang sebenarnya menjangkiti pulau paling timur itu. Yang kadang tak tersentuh media. Nabire dan Painiai adalah cikal bakal turisme baru Papua. Pemerintah setempat menutup rapat-rapat kasus kolera ini dengan mengatakan bahwa itu hanyalah wabah diare biasa. Takut tak ada wisatawan berkantung tebal yang sudi mampir kesana lagi jika tahu bahwa vibrio cholera diam-diam menggerogoti penduduknya.
Lalu sebuah telpon penting menghampiri.
“Kalau aku menugaskanmu untuk melakukan assesment ke Nabire, kau siap berangkat malam ini juga? Ada Fokker menunggu di Halim.”
Tentu saja aku harus siap. Tak ada pilihan lain. Meski pada akhirnya, ada pekerjaan lebih penting menungguku di Jakarta, dan aku hanya memantau perkembangan Nabire melalui telepon. Kolegaku, yang tentu saja memiliki semangat jauh lebih besar dibandingkan diriku, berjanji akan mengontakku untuk melaporkan perkembangan setiap saat.
Ketika aku bercerita dengan seseorang tentang hal itu, aku jadi teringat sebuah novel karangan Gabriel Garcia Marquez, yang dulu menjadi bacaan wajibku ketika masih semester 3. Judulnya : Love in the time of cholera. Filmnya sendiri, kutonton lebih dari 2 kali baru-baru ini.
Ada satu bagian yang paling kusuka. Yaitu adegan ketika Fiorentino Ariza datang menemui wanita yang dicintainya sembari berkata, ”Fermina Daza, aku telah menunggumu selama 51 tahun, 279 hari, 56 jam 30 menit dengan cinta yang tetap sama.”
Sesaat setelah suami Fermina meninggal karena serangan jantung.
Lima puluh tahun lalu, cinta mereka bersemi ketika kolera mewabah di salah satu pedesaan di Columbia. Dan baru setengah abad kemudian mereka bersama lagi.
Meski hanya sebuah novel, cerita itu memunculkan sebuah pertanyaan sederhana di benakku.
How long will you wait for your beloved one?
Tiap orang akan menjawab berbeda-beda. Dan sedihnya, malam ini aku masih menunggu secuil kabar, di tengah gegap gempita kolera yang mewabah di Papua nun jauh disana....
Wednesday, April 9, 2008
I cried because...
Akhirnya, setelah hari-hari panjang yang berlalu, aku mendengarkan kembali Until the Last Moment karya Yanni. Erotisme yang indah dan menghantui tiba-tiba melimpahi diriku dengan emosi. Aku mencoba menguatkan hati untuk tidak menangis, tapi kemudian seseorang berkata padaku bahwa tak apa-apa menangis, sebab air mata itu melembutkan perasaan. Ia bersifat menyembuhkan. Jadi, kukeluarkan semuanya tadi malam.
Aku menangis karena beberapa alasan, karena banyak hal.
Aku menangis karena musik itu menghadirkan kembali serangkaian kenangan, ketika pada saat ini aku tengah mencoba meninggalkan masa lalu melalui sebuah proses yang pedih.
Aku menangis karena aku menyadari bahwa ternyata tak mudah untuk mencabut sesuatu yang akarnya terlanjur tertanam begitu dalam.
Aku menangis karena menyadari bahwa ternyata aku masih selalu bergerak antara rasa ingin meninggalkan dan rasa rindu untuk kembali.
Aku menangis karena di balik perih yang melintas ini, aku merasakan kemenangan kecil tentang sebuah nilai yang kuyakin benar dan harus kulakukan, meski harga yang kubayar begitu mahal.
Aku menangis karena aku tahu bahwa aku tak akan pernah membuatnya menangis lagi.
Tapi, lebih dari semua alasan itu, aku menangis karena itu membuatku tetap menjadi seorang manusia.
Dan hanya mereka yang mengenal perih, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima kedahsyatan dan keterbatasan yang bernama manusia.
Thursday, April 3, 2008
Identitas
Sudah lima hari terakhir ini kursi di sebelahku terisi. Seorang partner kerja baru. Laki-laki, 5 tahun diatasku, dan menjadi bagian dari sistem informasi unit kami, tetapi mengkhususkan diri untuk urusan website, pemrograman dan sejenisnya.
Ada yang aneh rasanya bekerja berdua dalam satu bidang yang sama. Semua yang sebelumnya kumiliki sendiri, kini harus kubagi dengan orang lain. Terasa lebih ringan memang. Apalagi dia cukup berpengalaman dan helpfull. Tetapi tetap saja aku merasa canggung. Segala sesuatu kini harus kami bicarakan berdua. Setiap keputusan yang kuambil, harus terlebih dahulu sepengetahuan dia. Orang tak lagi memandangku sebagai sebuah entitas yang utuh. Di sebelahku selalu ada Ricky. Di bawah namaku, selalu ada nama Ricky.
Mengapa perasaan ini muncul? Aku mulai bertanya-tanya. Dan ternyata jawabannya sederhana. Ini hanyalah soal identitas.
Identitas itu ibarat garmen. Ia dikenakan di atas diri kita yang bugil. Dan ketika kita memakainya, kita menjadi enggan untuk melepaskannya. Kita takut menjadi bugil lagi. Kita ingin dilihat dengan pakaian terbaik oleh semua orang. Dan terkadang, kita memakainya secara ketat. Takut jika orang lain akan merenggutnya dari kita.
Jawaban itu cukup melegakan bagiku. Cukup memberiku pencerahan. Dan sebelum terlambat, menyadarkanku bahwa memang semua itu hanyalah garmen yang masing-masing kita kenakan. Aku menyadari bahwa aku mulai memakainya secara ketat. Seolah hanya pakaian itulah yang kumiliki saat ini, dan mengabaikan pakaian lainnya.
Kata James Baldwin, ”Aku” hanyalah pemberi tanda tentang suatu kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri. Dan tak seorangpun bisa merumuskannya secara pasti. Ia menyebutnya sebagai ’The Naked Self’ atau diri yang bugil. Untuk bisa merabanya sewaktu-waktu, lebih baik kita memakai identitas kita secara longgar, begitu katanya. Baldwin benar. Aku juga ingin memakai identitasku secara longgar.
Aku ingin menjadi manusia yang lega dengan diriku sendiri di dunia ini.